Iman kepada Allah artinya meyakini keberadaan Allah Subhanahu Wata'ala sebagai sang pencipta (Al-Khaliq). Syarat mutlak yang harus dimiliki Al-Khaliq yang pertama adalah wajibul wujud (wajib adanya). Sebab, jika tidak demikian maka dapat dipastikan bahwa ia bukanlah Al-Khaliq. Kemudian yang kedua, adalah azali (tidak berawal dan tidak pula berakhir). Untuk membuktikan bahwa Allah adalah sebagai Pencipta, akan kita jumpai tiga kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah ia diciptakan oleh yang lain. Kemungkinan ini jelas adalah kemungkinan yang bathil (keliru), sebab jika ia diciptakan oleh yang lain berarti ia bukan pencipta karena ia masih bergantung pada sesuatu yang lain. jika difikirkan dengan akal, segala sesuatu yang masih bergantung pada sesuatu yang lainnya, berarti ia bersifat lemah dan terbatas, sedangkan sesuatu yang terbatas, itu adalah salah satu sifat ciptaan (makhluq). Kemungkinan kedua adalah ia mencipatakan diri-Nya sendiri. Kemungkinan ini juga kemungkinan yang bahtil (keliru), sebab, jika ia menciptakan diri-Nya sendiri, berarti ia masih membutuhkan dzat yang lain sebagai bahan dasar agar ia bisa menciptakan diri-Nya sendiri. Pada saat yang bersamaan, ia sebagai makhluk dan juga Khaliq. Hal ini tidak bisa diterima secara akal, sebab tidak ada bedanya dengan kemungkinan pertama, sebab ia memiliki sifat berawal, dan setiap yang berawal pasti akan berakhir. Segala sesuatu yang berawal dan berakhir pada hakikatnya tidak dapat dikatakan sebaga sang pencipta (Al-Khaliq). Kemudian kemungkinan yang ketiga adalah bahwa ia bersifat azali dan wajibul wujud.
Dari ketiga kemungkinan diatas, dapat disimpulkan secara akal bahwa kemungkinan yang ketigalah yang benar. Lantas, bagaimana cara kita membuktikan keberadaan Allah SWT?! Apakah dapat dibuktikan secara akal?! Jawabannya tentu saja bisa. Hal ini bisa dibuktikan dengan cara memperhatikan apa-apa yang ada di alam semesta, manusia dan kehidupan sebagai makhluk-Nya tanpa harus memikirkan seperti apa dan bagaiaman Dzat Allah, sebab akal tidak akan mampu menjangkau nya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda :
"Berfikirlah kamu tentang makhluk ciptaan Allah tetapi jangan kamu fikirkan tentang Dzat Allah. Sebab, kamu tidak akan sanggup mengira-ngira tentang hakikatnya yang sebenarnya." (HR. Abu Nu'im dalam "Al-Hidayah"; sifatnya marfu', sanadnya dhoif tetapi isinya shahih).
Kemudian ditegaskan kembali dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Ali 'Imran ayat 190 :
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit
dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di
laut membawa apa yang berguna bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari
langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu
segala jenis hewan, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan
antara langit da bumi. Sungguh (terdapat) tanda-tanda (kekuasaan Allah)
bagi kaum yang berakal (memikirkan)". (TQS. Al Baqarah [2]: 164).
Masih banyak surat-surat dalam Al-Quran yang menjelaskan tentang keberadaan Allah SWT. Diantaranya dalam QS. Ali-Imran [3] : 190, QS. Ar-Rum [30] : 22, dll. seperti yang terdapat dalam sebuah kutipan ketika seorang baduy (orang awam) ditanya, "Dengan apa engkau mengenal Rabbmu?!"
"Tahi unta menandakan adanya unta dan bekas telapak kaki menandakan pernah adanya orang yang berjalan."
Oleh karena itu, Iman kepada Allah ini dapat dibuktikan secara akal dengan melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya melalui ciptaan-Nya yang dapat di indera.
